Dini Hari

Semenjak lulus kuliah, saya sudah makin tidak akrab lagi dengan melek di tengah malam, atau dini hari. Penyebabnya sepele, takut ngantuk pas kerja. Apalagi sejak ndak punya tipi di rumah. Ndak ada yang bisa dipakai buat nonton bola. Alhasil, makin jaranglah saya terjaga di tengah malam atau dini  hari.

Ini saja kebetulan saya melek, kemudian sebentar ngecek kerjaan, ahahaha. Nampaknya, kalau siang memang lebih berisik, dan saat-saat seperti ini lebih tenang, bisa mikir yang macem-macem. Film horor misalnya :v

Tapi benar lho, rasanya kalau siang itu email muncul terus, meski spam. Aplikasi chat kantor juga lebih sering aktif. Ternyata, memang kalau siang itu pada bangun.

Lantas saya kepikiran, berhubung bumi ini bulat, jadi ada di bumi sebelah lain yang barusan bangun atau siap-siap sekolah. Ada juga yang lagi sampai di kantor, telat ikut meeting, atau tiba-tiba virtual machine-nya crash. Ada juga yang sedang asyik main bola di sore hari, atau lagi TPA di masjid ba’da Ashar. Tak lupa, ada juga yang sedang tertimpa musibah atau kesedihan. Komplit lah. Betapa ndak signifikannya kita.

Kadang kalau di siang hari, fokus ada pada sekitar kita, entah kerjaan, sekolah, rumah, apapun kesibukan. Sedikit ada masalah, sering nggerundel (kata macam apa ini). Padahal kan disuruh sabar. Ada rezeki sedikit, tetep ndak puas. Padahal kan disuruh bersyukur.

Bukannya bermaksud sok-sok mikirin orang lain sih. Tapi sekadar biar bisa melihat bahwa dunia ini luas. Bayangkan saja, dengan keliling khatulistiwa itu 40rb lebih sedikit km, berapa coba luas permukaan bumi. Berapa kah yang berupa daratan? Berapa yang didiami manungsa? Berapakah uang kembalian yang diterima Sudin? Lel.

Pertanyaan terakhir ada berapa Kaiju di palung mariana? Lel.

Yah, kalau di dini hari ini, kita bisa lebih tenang. Minimal ndak mikirin makan siang. Karena masih lama. Banyak sih kerjaan dan kewajiban. Tapi nanti lah, bukan jam kerja ini. Hmm, apa pula itu jam kerja?

Tapi, memang benar adanya. Perlu mengalokasikan waktu untuk ndhelik sebentar dari segala rutinitas dan kesibukan harian. Misalnya, menghindari rutinitas mandi karena dingin. Ahaha.

Ya ndak lah, maksudnya, biar kita ndak sekedar obah mengikuti arus kehidupan *haish. Coba cek, ini sudah bulan mei. Lihat lagi, resolusi tahun baru 2016 nya perlu di-copy paste ke tahun 2017 ndak. Ahaha. Tapi ya ndak harus saklek. Konon hidup jaman sekarang itu dinamis. Tiba-tiba di tengah jalan muncul urusan yang super high mega bintang priority, ya dijalani dulu saja. Kalau di 7 habits kan ngebagi jadi 4 kuadran tuh urusan-urusan, sok dibaca lagi. Bahwasanya, main bola sore-sore selalu masuk kuadran pertama, terlepas lagi flu atau besok ujian kimia dasar. After all, aslinya kita itu ndak sesibuk yang kita pikirkan.

Fyi, saya gak makai itu 4 kuadran. Ahahaha. Mungkin perlu dipakai lagi (?).

Bulan depan sudah mau Euro, bulan Ramadan, dan banyak hal besar lainnya. Mungkin perlu dilatih biar bisa bangun dini hari lagi. Minimal buat matiin alarm lah, biar ndak ganggu tetangga.

Yah, sudah saatnya saya undur diri. Sampai berjumpa di kesempatan lain. Tenang saja, kata WordPress, saya punya 20 drafts yang belum dipublish. Entah apa saja isinya. Terakhir sih, nulis tentang tanaman. Tapi ndak sempat diselesaikan. Padahal sudah nangkring di todoist sejak kapan.

Mari bobok lagi.

PS: Civil War keren.

PPS: Males nyari image, tadinya mau nempelin poster civil war, tapi ndak nemu yang ada Spiderman sama Ant Man-nya. Ahaha.

PPPS: Ini murni nge-rant, ndak usah terlalu dipikirkan. Tapi mungkin muncul ide-ide. Dan ide itu bulletproof. Ahaha. Wis ah

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s