Pengalaman Berupacara Bendera

Prolog: Kok tiba-tiba nulis tentang upacara bendera? Yah, soalnya tema #1minggu1cerita kali ini adalah upacara bendera. Dan inilah ceritanya.

Jauh di lubuk hati, saya memang ndak suka upacara bendera. Mulai dari harus berdiri di pagi hari kala mentari sedang meninggi. Lantas harus pakai kostum lengkap mulai dari sepatu hitam, kaos kaki putih, topi, dan dasi (terutama pas SD dan SMP ini). Dan paling malas kalau dapat giliran jadi petugas upacara.

Dulu, saat SD, saya jarang pakai sepatu. Pas kelas 5 ke bawah, kayaknya pakai sepatu cuman pas hari Senin saja. Demi ndak dihukum pas upacara. Alhamdulillah, sekarang ndak perlu pakai sepatu tiap hari. Palingan cuman pas main futsal saja. Mungkin kalau ndak ada upacara, saya pasti tidak pernah pakai sepatu. Ahaha.

Pas dapat giliran menjadi petugas upacara di SD, saya selalu cari bagian yang enak menurut saya. Berikut analisisnya:

  1. Pengibar Bendera. Becanda kalau sampai ditugasi ini. Mungkin tiang benderanya selalu bersyukur bukan saya yang mengibarkan bendera.
  2. Komandan. Nope. Sendirian di depan semua orang. Pakai teriak pula. Belum lagi perlu laporan ke pembina upacara, bahaya sekali kalau saya malah ketawa pas ngasih laporan ke pembina upacara.
  3. Protokoler. Ini lebih aman. Tapi masih perlu mengeluarkan suara sendirian. Rawan ketawa. Jadi juga nope. Pas nulis ini, kepikiran, kalau saya jadi protokoler, mungkin saya singkat saja upacaranya. Ahaha.
  4. Pembaca doa dan pembaca pembukaan UUD 45. Nope juga. Teks yang dibaca panjang. Saya sering kepikiran hal lucu kalau baca sesuatu. Rawan ngekek di tengah jalan.
  5. Dirigen. HAHAHAHA. Nope. Dengan skill musik saya yang seperti ini, bisa jadi konser dangdut nanti. Jelas tidak.
  6. Paduan suara. Hmm, ini paling banyak personilnya. Paling aman. Salah ndak ketauan. Bahkan suara cempreng pun tak masalah, cukup lipsync saja. Pilihan natural banyak orang.
  7. Pembawa teks Pancasila. Tidak perlu bicara. Cukup ngekor Pembina Upacara. Ideal menurut saya. Terlebih, dulu pas SD lokasi berdiri petugas ini sangat sejuk, di bawah pohon-pohon gitu. Jadilah saya milih ini. Dan masih keliatan aktif. :v

Pas SMP, semua berubah. Lokasi upacara di lapangan terbuka. Sangat panas. Males pokoknya. Beuh. Kayaknya pernah sekali semaput alias pingsan pas ikutan upacara pas SMP.

Pas SMA, semua berubah. Upacara diadakan di lapangan basket. Dikelilingi gedung sekolah tingkat 3, jadi tak lagi panas. Yah, kecuali bagian yang dihukum, soalnya ditempatkan di bagian agak barat. Motivasi bagus untuk selalu datang pagi dan berkostum lengkap.

Oh iya, pas SMA, saya upacara tidak tiap pekan, tapi dua pekan sekali. Enak tho. Ahaha.

Ada banyak hal yang lumayan seru pas upacara SMA. Dulu pas kelas satu, kadang kala suka ketiduran sambil upacara. Meski posisi berdiri. Yah, ternyata konangan sama guru sih, soalnya posisi kami berseberangan.

Hal lain yang saya suka adalah ketika pengumuman-pengumuman. Suasana jadi santai. Apalagi kalau pengumuman baru menang lomba apa gitu. Wih, dipanggil ke depan, diserahin pialanya. Pas maju, barisan kelas kami berubah formasi sambil diberi aba-aba “Open the hole“, semua menepi supaya yang belakang (yang dipanggil) bisa maju. Mantap.

Pengalaman lain tentang upacara adalah di kelas 3 SMA, tepatnya pasca UN. Kebetulan saya bersekolah di sekolah yang ada asramanya. Tak jarang ketika upacara sudah berlangsung, kami masih di asrama. Masih mandi misalnya. Nanti berangkatnya sekalian pas masuk kelas. Aman. Saya menyebutnya upacara jarak jauh. Saya ikutan upacara, denger petuah dari pembina upacara, cuman sayanya ada di kamar mandi.

Suatu ketika, kok ya kebetulan, banyak yang gak ikutan upacara. Mungkin efek euforia pasca UN (halah). Nah, kalau banyak yang gak muncul di barisan upacara, pasti ketahuan dong. Apalagi murid di sekolah saya cuman dikit. Guru pasti hafal murid-muridnya. Berhubung ketahuan, pak kepala sekolah datang ke asrama kelas 3. Beuh.

Untungnya, saya lagi di kamar mandi. Mendengar suara beliau, langsung otak saya berfikir, dan saya pun memutuskan untuk ndekem di kamar mandi sampai suasana terkendali. Saya lupa apa yang terjadi dengan rekan-rekan yang tertangkap basah persisnya. Ahaha.

Ternyata kebahagiaan sesaat. Di hari yang sama, saya perlu menghadap kepala sekolah untuk suatu mengurus syarat pendaftaran kampus. Masuk ke ruangan beliau lah saya. Dan selain mendapatkan syarat yang diperlukan saya juga dapat bonus mutiara hikmah yang kurang lebih mengambil tema kejadian di pagi tersebut. Saya cuman bisa mesam-mesem saja. :v

Semenjak lulus SMA, kayaknya sudah jarang upacara. Palingan pas upacara 17an pas ospek di kampus. Selain itu, sudah ndak ingat lagi. Dipikir-pikir, kalau upacaranya ndak perlu panas-panasan, ndak perlu berdiri tapi sambil duduk, ada camilannya, kayaknya lebih menyenangkan. Tapi mungkin dianggap kurang hikmat :v.

Saya ndak menolak kok diajak upacara, apalagi kalau di istana presiden. Entah kapan. Nunggu presidennya khilaf. Mungkin saya bisa jadi pembawa teks pancasila, dengan track record yang cukup bagus di tugas tersebut.

Salam.

PS : Jangan lupa, kalau mau join #1minggu1cerita bisa cek di Fesbuknya. Ada juga akun Twitter sama Instagramnya. Linknya silahkan dicari sendiri sebagai latihan pembaca di rumah. Kadang-kadang ada give away-nya lho. Seperti pekan ini. Semoga saya menang *halah.

Iklan

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s