Tema Susah: Kampung Halamanku

Mencoba ikut gerakan #1minggu1cerita lagi. Tapi ini pekan pertama dikasih tema yang susyah, “Kampung halamanku juga seru”. Seru bagian mananya coba…

Sebagai pengantar, saya berkampung halaman di Bantul, Yogyakarta, di salah satu kecamatan namanya Bambanglipuro (kurang catchy memang namanya). Saya lahir dan tinggal di sana sampai SMP. Menghabiskan waktu dengan nonton tivi yang masih hitam putih yang bikin nonton final WC 2002 antar Brazil dan Jerman susah. Kostumnya kuning sama putih sih. Sinyal tivi juga susah, perlu geser-geser antena kalau mau ganti channel. Cukup bikin kurang update cerita kartun Dragon Ball.

Kegiatan rutin lain, main bola hampir tiap sore. Mainnya di lapangan kecil depan TK Pertiwi. Kayak main futsal sih, 5 vs 5 biasanya. Atau tergantung berapa anak yang datang ke lapangan sore itu. Di belakang gawang, ada sawah milik tetangga. Paling suram kalau pas padinya udah tinggi. Nendang bola, syungg. Kejauhan, jlebb. Masuk ke sawah. Ndak berani ngambil kalau ada pak taninya. Takut dimarahin gara-gara nginjak-nginjak padinya. Kayaknya, pas panen, pak tani panen bola plastik juga.

Masih tentang main bola, ada aturan kalau kalah push up 5 atau 10 kali. Suatu ketika, hari sudah makin gelap, bentar lagi Maghrib, push up dinaikkan jadi 50 kali. Kedua tim jadi super bersemangat. Alhasil, bola pecah karena ditendang dua orang barengan. Dan pertandingan pun bubar

Tentu saja melakukan beberapa kegiatan standar anak di kampung lainnya. Misalnya, main layangan, sepedaan di Hari Minggu pagi, main monopoli sama tetangga (paling cocok buat ngehabisin waktu pas bulan puasa), main kartu (entah itu diadu, pakai sabut kelapa, dan seterusnya), kelereng, main gebuk-gebukan, nyari mangga dan buah lainnya di kebon-kebon, nyari ikan di kali, atau jalan-jalan ba’da Subuh sama simbah-simbah jamaah mushola.

Seru sih sebenernya, ndak perlu mikir tagihan listrik, nyari kontrakan, atau paket data kayak sekarang :v

Habis SMP saya melancong ke Semarang (3 tahun), Bandung (4 tahun), Jakarta (1 tahun), Gwangju (0.5 tahun), dan akhirnya balik lagi ke Jogja, tapi di Kabupaten Sleman. Menjadi kontraktor rumah, bareng istri. Biar gampang mudik ke rumah ortu atau mertua di Muntilan pas weekend. Dan bisa dapet sinyal 4G tentunya. Asal tahu saja, kalau pas pulang ke rumah ortu, sinyal susah, hape jadi panas. Kampung memang.

Tapi sekarang udah mendingan ding, jalan udah banyak yang di aspal. Sinyal tivi udah jauh mendingan. Tivi udah berwarna juga, ahaha. Udah gak tertarik tivi lagi sayangnya. Mending beli monitor 24 inchi lagi, terus pasang desk arm di meja kerja. Kan mantap.

Biar rada seru dikit, saya kasih tentang wisatanya. Khususnya Kabupaten Bantul selatan. Kalau mau cerita tentang Jogja, kebanyakan. Saya aja belum pernah ngunjungin semua. Mau jalan-jalan aja masih ngandelin Google Maps, saking gak hafal jalannya.

Tempo hari, suatu ketika di tahun lalu, saya mengunjungi yang namanya Bukit Parang Endog atau sekarang sering disebut Bukit Paralayang. Lokasinya sangat dekat dengan pantai sejuta umat, Pantai Parangtritis. Kenapa disebut bukit paralayang? Karena ada kegiatan paralayang di sini. Take off dari atas bukit, lalu turun di pantai Parangtritisnya. Tapi jangan nanya, gimana rasanya berparalayang. Saya juga belum pernah. Ahaha. Pas kesana, lagi gak musim berparalayang. Perlu angin soalnya. Paling cocok katanya sih bulan Desember – April kayak sekarang. Saya juga pengen sih nyobain. Semoga suatu ketika bisa terlaksana. Jangan lupa Like dan katakan Aamiin.

Nah, meski ndak bisa paralayang, pemandangannya cukup yahud juga. Memang disediakan spot-spot buat foto, biar bisa diupload di instagram. Contohnya kayak foto ini

Itu lokasinya di tempat take off paralayang. Katanya. Yang bawah itu, pantai Parangtritisnya. Biar keliatan, ini zoom out nya:

Bukit Parang Endog (zoom out)
Bukit Parang Endog (zoom out)

Kalau yang ini, yang saya bilang tadi, buat foto-foto. Ada penunjuk arahnya juga. Banyak dan mengarah ke berbagai provinsi serta kota di dunia. Entah bener gak angka sama arahnya. Duh, cuman upload yang ini saja ya, soalnya di foto-foto lain malah ada bidadarinya, hehehe.

Penunjuk Jalan ke Ulan Bator
Penunjuk Jalan ke Ulan Bator

Kalau main ke Parangtritis, saya sarankan ke sini juga. Deket banget. Dulu naik motor , buat parkir cuman bayar 3rb saja. Seharga nasi di warung penyetan di Jogja.

Oh iya, lokasi bukit ini:

Yah begitulah kampung saya. Dibilang seru juga gak seru-seru banget sih. Wkwkwk. Bingung pas mau nulis. Tapi habis nulis, ternyata bisa juga. Ngalir. Dan ternyata lumayan seru juga (minimal buat saya, ahaha). Terima kasih 1minggu1cerita.

Fun fact: Kampungnya sudah 15 tahun saya tinggali. Masih lebih dari separuh usia saya. Masih memegang rekor menjadi tempat ber-idul-fitri selama 25 tahun berturut-turut (citation needed). Sebelum akhirnya pecah ketika lebaran terakhir berada di rumah mertua :v.

PS: Yehee… Inter menang lagi.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s