Mengejar Pesawat

Alkisah, tempo hari saya ada kegiatan di Jakarta, dan pulang menggunakan pesawat Batik Air dari bandara Halim Perdanakusuma. Pesawat dijadwalkan akan take off jam 19.40. Saya memilihnya karena ini merupakan penerbangan paling akhir ke Jogja. Mengingat saya akan pulang hari Jumat, dan Jumat sore adalah salah satu waktu paling super buat bepergian di Jakarta, saya memutuskan untuk naik ojek online saja.

Saya mulai pesan ojek online (go-jek) jam 16.30 dari lokasi saya di Menara Thamrin. Kata Google Maps sih butuh 1 jam lebih dikit. Hampir setengah jam, tidak ada yang mengambil order-an saya. Beuh. Saya pun beralih untuk memesan Uber motor. Dan mendapatkan driver yang mau mengambil order-an saya.

Tapi ternyata butuh waktu cukup lama juga buat si driver ke tempat saya. Dan bingung juga soalnya belum pernah ke Menara Thamrin. Akhirnya, saya ngalahi untuk nunggu di jalan Wachid Hasyim. Kami pun bertemu dan berangkat. Sekitar pukul 5 lebih dikit.

Saya memantu perjalanan dari Google Maps. Kira-kira ada jarak 16 km. Jalanan memang macet, namun saya masih optimis bisa sampai tepat waktu. Si driver juga bilang mau mampir SPBU dulu, soalnya bensinnya habis.

Melihat jalanan yang macet, si driver memutuskan mengambil jalan masuk lain ke bandara. Katanya, rumahnya dekat bandara, jadi tahu ada jalan masuk lain. Saya pun percaya saja.

Kami muter cukup jauh, namun memang tidak semacet jalur biasa. Perasaan saya mulai tidak enak karena tidak kunjung sampai, dan tidak terlihat papan penunjuk jalan ke bandara. Terlebih lagi, hampir semua SPBU penuh atau kehabisan stok.

Akhrinya sampai pintu masuk yang dimaksud. Tapi perasaan saya mengatakan ada yang salah. Karena tidak terlihat orang-orang hilir mudik. Dan ternyata memang benar, setelah bertanya ke orang di situ, menang tidak bisa masuk dari sana. Beuh.

Saya langsung berubah mood, dan rasa optimis saya mulai hilang. Kami perlu muter lagi. Saya cek peta, jalanan cukup lenggang, estimasi yang diberikan oleh Google juga masih masuk akal untuk sampai tepat waktu. Saya mengkhawatirkan persediaan bensin di motor yang kami tumpangi.

Sekitar 4km sebelum tujuan, motor sudah mulai tidak beres, seperti kehabisan bensin. Makin was-was saya. Hitung-hitungan singkat, hampir mustahil jalan 4 km dan sampai tepat waktu.

Akhirnya, di sebuah terowongan, bensin benar-benar habis. Saya pun mulai lemes. Jarak masih sekitar 3.2 km.

Google Maps Timeline
Google Maps Timeline

Membantu mendorong motor yang mati keluar dari terowongan. Jalanan menanjak. Beuh.

Sembari mendorong, saya melambaikan tangan ke arah pengemudi motor lain yang lewat. Berharap ada yang mau memberikan tumpangan. Walau saya tahu, kemungkinannya kecil.

Tanpa disangka, ada sebuah vespa yang dikendarai dua orang yang mau membantu. Semula mereka mau mendorong motor kami dengan kaki (sembari mereka naik vespanya). Namun, tenaga si vespa kurang kuat nampaknya.

Akhirnya, saya meminta tolong untuk mengantarkan saya saja dengan vespanya. Alhamdulillah si pengemudi vespa mau. Teman yang diboncengkannya turun untuk menunggu bersama driver Uber.

Si pengemudi vespa mengantarkan saya melalui jalanan kampung. Rada was-was sebenernya, gara-gara tadi. Tapi ya sudahlah. Saya melihat dianya tahu jalan di sekitar sana. Setelah sekian polisi tidur dilewati dan sekian kali hampir jatuh gara-gara si vespa melonjak, saya akhirnya sampai. Hampir pukul 7.

Tak lupa saya berikan tips (kebetulan cuman ada 50rb di dompet) dan kartu nama kepada si pengemudi vespa.

Saya lantas berjalan cepat (ada jarak lumayan yang perlu ditempuh melewati parkiran). Jantung sangat deg-degan. Kemudian check-in  dan masuk ruang tunggu. Lalu duduk. Mengatur nafas. Minum air mineral. Dan mengabari istri. Alhamdulillah, sudah di ruang tunggu. Tapi masih belum diminta boarding.

Saya putuskan untuk ke toilet dan solat dulu. Tapi belum juga 5 detik dari Takbiratul ihram, sudah ada panggilan untuk masuk pesawat. Saya putuskan untuk membatalkan solat. Dan masuk pesawat.

Pesawat kena turbulence akibat cuaca buruk. Saya sempat kepikiran skenario di Final Destination. Tapi ini saya sebaliknya. Bukannya kabur dari pesawat, tapi malah sekuat tenaga masuk pesawat. Deg-degan belum ilang. Walau tahu bahwa pesawat merupakan salah satu armada transportasi yang paling aman.

Saya putuskan untuk solat saja di pesawat, soalnya kepikiran siapa tahu itu solat terakhir saya. Habis solat, hati lebih tenang, dan pesawat sudah lepas dari turbulence. Alhamdulillah.

Pesawat tiba di Jogja agak terlambat. Tapi ndak apa-apa, yang penting selamat sampai rumah. Alhamdulillah.

Lesson learned:

  1. Perhitungkan waktu antara memesan ojek online dan sampai naik motornya. Kalau sore atau jarak jauh, kadang lama.
  2. Pintu Halim itu cuman satu, Jendral.
  3. Masih ada orang baik di jalan raya. Berusahalah untuk minta bantuan.
  4. Jadilah orang baik itu.
  5. Pay it forward
  6. Segerakan solat

 

Selamat menjalani bulan Ramadan.

 

PS: Btw, di hari yang sama, saya naik gojek dari Kebon Kacang ke Menara Thamrin. Tapi malah muter sampai Pasar Tanah Abang, Stasiun Tanah Abang, Thamrin City, 20 meter dari lokasi penjemputan awal, baru sampai di lokasi. Mantap.

Iklan

7 comments

  1. Itu kenapa sampai kasih kartu nama, Sun? :B Wah mantap tenan pengalamannya. Seru bacanya. Dari Menara Thamrin ke Kebon Kacang harusnya jalan aja atuh. Gak sampai 2 km kan harusnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s