Berkelana (1/15): Pesan Taksi

Dahulu, sebelum musim Uber, Gojek, Grab, atau transportasi online lainnya, pesan taksi itu susah (kecuali mungkin di Jakarta). Kita perlu menelpon ke nomer telepon taksi, lalu nanti dicarikan. Kemudian kita dikasih nomer taksi sekian yang akan menjemput kita. Sekarang masih ada juga sih sistem ini.

Alkisah, ada saya dan teman saya, sebut saja Berg, baru saja selesai sebuah acara di Semarang, dan hendak kembali ke asrama (kebetulan kami satu sekolah dan satu asrama). Kejadian ini terjadi sekitar mid-2006. Posisi kami ada di LPMP Semarang.

Kami pun menelpon provider taksi, diberikan sebuah nomer taksi yang akan menjemput kami. Kami pun keluar dari LPMP, menunggu di depan gerbang. Kayaknya sih di sini, lihat anak panah merah

 

LPMP Semarang
LPMP Semarang

Sembari menunggu, kami ngobrol ngalor-ngidul. Ada beberapa taksi yang masuk ke dalam area LPMP, kami pikir itu taksi pesanan orang lain, karena memang sedang bubaran acara. Jadi banyak yang memesan taksi.

Waktu makin berlalu. Mulai curiga ada yang salah. Kami pun menelpon lagi. Konon, katanya taksi kami diambil orang lain. Jadi, salah satu dari beberapa taksi yang kami lihat tadi adalah taksi kami. Mungkin, pak sopir tidak kepikiran ada dua orang pemesan taksi yang menunggu di depan gerbang LPMP.

Akhirnya, setelah nelpon lagi, kami berhasil mendapatkan taksi. Happy ending.

Lesson learned : tunggulah taksi di tempat yang layak.

PS: Berdasarkan kisah nyata, yang ditulis seingat saya. Bagian 1 dari (mungkin) 15.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s