Tentang Pilihan

Tempo hari saya ada kerjaan di Jakarta, di hari Senin dan Selasa, di sebuah hotel sekitar 5 km dari bandara Halim. Tiket pesawat sudah dipesan, berangkat Minggu siang, pulang Selasa sore. Waktunya kira-kira sudah efisien.

Namun, seiring waktu, saya ternyata ada perlu untuk mengurus sebuah visa dan perlu melakukan appointment. Untuk menghemat waktu dan biaya, idealnya saya memilih hari Rabu dan menunda jam kepulangan menjadi hari Rabu.

Awalnya, jadwal untuk hari Rabu sudah habis. Ya wis, saya pun pasrah karena saya belum bisa memilih jadwal karena belum membayar biaya visanya. Mungkin memang perlu ke Jakarta di lain waktu.

Setelah saya bayar visa, menunggu sehari, mau bikin appointment, eh lha kok ada 1 slot kosong di hari Rabu. Alhamdulillah sekali. Langsung saya pilih. Dan dapatlah jadwal hari Rabu jam 7 pagi. Selain jam 7, biasanya ada yang jam 9. Tapi kayaknya sudah habis.

Kemudian saya perlu mengganti jadwal penerbangan. Saya telpon CS maskapai Citilink karena memang tidak ada pilihan untuk mengganti jadwal selain menelpon. Awalnya sudah suudzhon dulu dengan yang namanya CS telpon, sering gak sampai ke CS benerannya, mentok di bagian lagu-lagu, sampai pulsa menipis.

Ternyata, CS Citilink ini sangat mudah dihubungi. Mungkin jam tidak sibuk. Untuk jadwal pengganti saya ada dua pilihan:

  1. Jam 11.40
  2. Jam 14.30

Awalnya saya mikir mending yang jam 14.30, bisa numpang makan siang di tempat acara (yang enak-enak), terus tidak terburu-buru. Paling kekurangannya, nunggu terlalu lama jikalau selesai urusan visa jam 9. Oh iya, penggantian maksimal 1 kali saja.

Saya mikir selesai visa maksimal jam 9 karena sesi selanjutnya adalah jam 9.

Namun, akhirnya saya memilih pesawat jam 11.40. Dengan harapan selesai cepat, lalu bisa pulang. Biasanya capek dan pengen segera pulang.

Namun sebelum membayar, saya kepikiran, kayaknya jam 11.40 ini mepet banget. Apalagi lokasi kedutaan cukup jauh, 10km dari penginapan (dan saya musti balik ke penginapan dulu untuk ambil barang-barang). Akhirnya saya putuskan untuk menelpon CS lagi, untuk mengubah menjadi jam 14.30 (kondisi belum dibayar). Namun ternyata ndak bisa.

Ya wis, pasrah saja. Tetep yang jam 11.40. Namun tetap merasa sebuah keputusan yang kurang tepat.

Menyesal sih pasti. Sempet kepikiran. Tapi keslamur dengan acara di hari Senin dan Selasa yang menguras energi.

Selasa malam, saya beres-beres, supaya besok langsung cus.

Hari Rabu, saya bangun lebih awal, BAB, mandi, solat Subuh lalu menuju lokasi appointment. Saya naik gojek. Dan gojek yang saya tumpangi sungguh lebih menyeramkan dari wahan kicir-kicir di Dufan. Atau kalau diitung pelanggaran peraturan lalu lintas, udah lebih dari selusin. Ampun. Untung selamat.

Di lokasi antrian sudah memanjang. Saya lumayan dapet antrian ke 33 padahal sampai lokasi jam 6. Proses masih panjang.

Alhamdulillah semua lancar. Jam 7 loket dibuka, nunggu giliran, ikuti alur, dan jam 8 seperempat semua urusan selesai. Bisa balik lebih cepat, bisa santai-santai di penginepan dan makan kudapan. Keputusan milih tiket jam 11.40 terasa tepat.

Jam 10.15 saya putuskan ke bandara, sembari beli oleh-oleh buat istri, kalau nemu.

Semua terasa lancar. Eh ternyata, pesawat saya di-delay 1.5 jam. Alamak. Pengen balik penginepan buat makan siang rasanya. Tapi ya ndak mungkin. Sempat kepikiran, kalau milih yang jam 14.30 bisa lebih selow dan nyampainya juga ndak jauh beda. Merasa tidak tepat memilih jam penerbangan.

Baru boarding jam 1an. Alhasil sampai rumah jam 3an. Yah, sedikit lebih cepat daripada saya ambil yang jam 14.30.

Pada akhirnya, saya sampai tidak jauh beda dengan memilih tiket manapun. Walaupun berganti-ganti pandangan saya mengenai pilihan tiket tersebut. Yang kadang membuat lupa banyak rejeki yang diperoleh, mulai dari bisa memilih appointment di hari Rabu, proses visa yang lancar, masih bisa makan kudapan di penginapan, dan tentu saja, bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Memang susah hal menentukan pilihan itu. Setiap hari kita diberi banyak pilihan, mulai dari mau pakai baju yang mana, mau makan apa, mau bangun jam berapa, mau tidur jam berapa, dan seterusnya.

Kadang mikirnya kejauhan, dan melupakan rejeki yang dikasih dan sebenarnya lebih berharga.

Atau bahkan, kita jadi lupa, bahwa kita diberi nikmat untuk bisa memilih. Banyak lhoh orang di luar sana yang tidak bisa memilih karena cuman ada satu pilihan, atau bahkan yang tidak ada pilihan sama sekali.

Tapi, apapun pilihannya, minumnya Teh Botol Sosro jangan lupa untuk bersyukur.

WAKANDA FOREVER!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s