Piala Dunia – Dan Pemenangnya Adalah…

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, juara piala dunia 2014 adalah Jerman. Yah, memang pantas sih. Ndak ada yang perlu diperdebatkan lagi.

Saya sendiri cukup sedih, atau sangat sedih. Soalnya Brazil kalah telak 7-1 dan 3-0. Tapi ya mau gimana lagi. Skuad yang menurut saya ndak terlalu wow. Masih gak ngerti kenapa milih Fred dibanding banyak pemain yang lebih keren lain. Masih beruntung bisa sampai semi final. Mungkin kalau tidak menjadi tuan rumah, paling pol perempat final. Tapi ya sudahlah. Semoga empat tahun lagi bisa juara, walau susah.

Nah, postingan kali ini juga untuk mengumumkan hasil poling juara piala dunia yang saya buat sebelumnya. Dulu sih bisa ngisi di sini.

Penilainnya cukup sederhana:

Penilaian:
Kelolosan = 1 poin
Benar posisi akhir grup = 1 poin
Benar juara piala dunia = 10 poin

Total poin maksimal : 4 * 8 + 10 = 42 poin

Jika poin sama, yang lebih dulu memberikan prediksi yang berhak.

Nah, tebakan yang masuk bisa dicek di sini.

Nah, setelah dihitung, hasilnya adalah….

 

Ivan Nugraha, dengan 31 poin.

 

Kalau mau lihat hasil lainnya atau lihat hasil sendiri, bisa dilihat di sini.

Pemenang akan dihubungi oleh penyelenggara maksimal 3 hari setelah postingan ini terbit. Kecuali kalau lupa :v

Btw, yang mau protes dengan penghitungan hasil, monggo. Maksimal 2 hari setelah postingan ini  :v

Sampai jumpa di Euro 2016. *kalau ndak lupa.

NB : Penghitungan poin menggunakan script ini *siapa tahu ada bug-nya

Willkommen, Juli

Akhirnya buan Juni telah usai, dan sudah menjadi bulan Juli :v. Kebetulan pula hampir sepanjang Juli bakalan puasa. Mari sedikit mengingat yang terjadi di bulan Juni.

Dua pekan pertama bulan Juni saya habiskan di Jakarta, mengunjungi kantor lama :). Tidak banyak berubah, walau banyak staff yang datang dan pergi *halah. Ini merupakan business trip pertama saya di perusahaan yang baru. Pertama kali juga merasakan City Link dan bandara Halim Perdanakusuma. Memang sengaja milih itu, biar merasakan :). Banyak cerita sebenarnya selama 2 minggu pertama ini, mulai dari hotel, perpisahan supervisor saya yang lama, lari 10k, dan pernak pernik lainnya. Sudah saya tulis bahkan, tur ya masih sekadar numpuk di draft. Ya, semoga saja nanti ter-publish.

Saya menyempatakn mengunjungi Bandung setelah dari Jakarta. Tujuan utamanya sih ngurus buku tabungan. Yah, lumayan bisa ketemu beberapa teman. Walau dengan anehnya, banyak yang mendadak pergi dari Bandung. Ada yang hampir ndak pernah pula, tiba-tiba disuruh pulang, sampai dibeliin tiket. Beuh. Obrolan dengan teman-teman lama memang menyenangkan. Dan tentunya, saya bisa main bola di asrama. Sangat menyenangkan. Ah, sejak kapan main bola jadi susah ya :(

Saya mencoba untuk bekerja secara mobile. Di asrama, di bandara, bahkan sempat kepikiran di dalam travel. Namun, apa daya, saya kok ternyata perlu kondisi yang nyaman untuk bekerja dengan maksimal. Dan internet ternyata cukup susah didapatkan. Perlu dicoba lain kali.

Pekan ke tiga, saya tepar. Dua kali diare diselingi flu. Yak, dua kali. Plotnya, diare, sembuh, kena flu, sembuh, diare. Ouch. Menyiksa. Untung toilet sangat terjangkau. Saya ndak bisa membayangkan kalau kena diare di gunung. Kebetulan ada ajakan ke gunung, terpaksa saya tolak. Argh. Jangan sampai lah. Btw, entah kenapa selalu teringat kuis kuliah IB (inteligensia buatan) kalau kena diare. Maklum, dulu pernah diare (kayaknya) gara-gara makan roti cane, terus besoknya ada kuis IB. Teuing lah, yang penting segera pulang, ngasal ngerjainnya. Ahaha.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada Entrostop. Dan teman-teman yang memberikan saya semangat untuk mengalahkan diare. *uopoh.

Pekan terakhir, ada kunjungan singkat dari manusia annoying, Lorenz. Lalu kesel parah gara-gara Italia kalah. Dan beberapa hal lagi yang rahasia. Halah pret. Dan tentunya, memulai beberapa kebiasaan baik. Salah satunya adalah belajar bahasa Jerman (lagi). Makanya, judulnya sok-sokan pakai bahasa Jerman :v. Belajar di mana Sun? Di Duolingo. Kenapa? Gratis. Ahaha. Yang jelas, masih level cups parah.

Kebiasaan lain yang mungkin berguna adalah mengalokasikan 20 menit terakhir dalam sehari, sebelum tidur untuk diri sendiri. Biasanya sih saya gunakan untuk mereview hari ini ngapain saja dan besok mau apa saja. Ah, tapi ya kadang malah nonton bola :v. Lebih bagus lagi, kalai dicatat, jadi bisa dibaca-baca. Apakah hari ini kita ngejunk atau sangat ngejunk :v. Yang jelas, ini investasi biar bisa dibaca-baca di masa depan. Auooooo…. Nyicil bikin autobiografi. ahahaha.

Ngomong-ngomong, entah kenapa bulan Juni kemarin berlalu sangat lambaaattt sekali. Atau hanya perasaan saya saja? Ah apakah saya punya perasaan?

Akhir kata, Auf wiedersehen Juni, Willkommen Juli :)

Semoga Juli lebih baik dari bulan Juni :v

Niat

Salah satu hal yang sering kepikiran (membuat saya mikir) adalah tentang niat. Terutama untuk hal-hal yang sifatnya terlihat oleh manusia lain. Misalnya infak, qurban, solat jamaah, atau baca Al Quran. Kalau hal-hal yang ndak keliatan, semisal puasa atau solat sendirian di kamar gitu, kayaknya bisa lebih plong niatnya.

Nah, sementara kalau solat jamaah, jadi imam pula, kadang-kadang terlintas pikiran, “duh, ini ndak boleh salah gerakan sama bacaannya, biar ndak malu sama makmum.” atau “wah, baca surat apa ya, biar ndak dibilang surat itu lagi, surat itu lagi”.

Untuk ibadah lainnya juga gitu. Rawan riya’ pula. Ahaha. Salah satu akun Twitter, @Tweet_Riya, sering mentweet tentang tweet-tweet riya ini. Bisa buat instopeksi lah, ahaha. Kadang-kadang kan riya’ itu ndak keliatan :v.

Saya jadi ingat, film Kiamat Sudah Dekat. Bagi yang belum nonton, tontonlah. Daripada nonton Transformer 4 :v.

Di film tersebut, dikisahkan ada satu anak band yang ndak bisa baca Al Quran dan ndak bisa solat, kesengengsem sama anak kiai. Si anak kiai ini pun sebenarnya juga kesengsem sama si anak band. Akan tetapi, karena si kiai ndak pengen punya menantu “berandalan” yang agamanya ndak jelas, beliau memberikan 3 syarat yang nantinya dites. Solat, baca Al Quran, dan ilmu ikhlas.

Nah, demi mendapatkan si anak kiai ini, si anak band ini jadi rajin belajar solat dan baca Al Quran.

Mungkin bisa keliatan kali ya, niatnya melenceng :v.

Kalau yang ilmu ikhlas, ya begitulah. Saya juga ndak ngerti. Ikhlas itu kalau bagi saya, ibarat “ya wis lah ya…” *bener ndak sih?

Jadi kan si anak band ini belajar solat sama baca Al Quran demi si mbak-mbak anak pak kiai, jelas salah dong ya? *iya kan ya?

Tapi kan pada akhirnya, itu cuman niat sesaat (ya kali, kenal agama aja belum, ibadah aja ndak tau, boro-boro mikirin niat). Lalu pada beberapa adegan terakhir, si anak band ini sadar tentang agama dan ikhlas mau ditolak sama pak kiai atau enggak. Toh sudah membuatnya kembali ke jalan yang benar.

Kultum tadi pagi juga serupa. Dibilang, jangan terlalu mikirin hikmah puasa atau ibadah lainnya. Niatkan saja untuk Allah. Hikmah puasa seperti seperti lebih sehat, itu kan konsekuensi logis, jadi ya ndak usah dipikirin nanti juga terjadi sendiri. Boleh-boleh saja sekalian untuk mendapatkan hikmahnya, tapi ya jangan lantas jadi tujuan atau niat utama beribadah. Yah, kecuali yang disyariatkan, seperti kalau silaturahmi itu menyambung rezeki. Jadi boleh kita niat silaturahmi biar dapat rezeki.

Ini bikin saya mikir (biasanya ndak pernah mikir dong :v). Sudah bener ndak sih niat saya. Jangan-jangan, ada riya nyelip. Atau jangan-jangan kayak di film Kiamat Sudah Dekat, cuman demi perempuan. *perempuan e sopo :v, atau biar dapat undian mobil :v, atau cuman buat ngisi ceteleh  çetele (istilah Turki untuk lembar kegiatan ibadah)..

Yah, semoga niat kita sudah benar. Kalau belum benar ya dibenarkan. Sayang kan, udah capek-capek solat, suara mau habis tadarusan, eh niatnya ndak bener.

Yah, semoga saja.